15 Sep 2011

Lampu Taman Jepang rasa BALI TAMAN

Lampu Taman Jepang | Taman Saya

Sebagai pembanding Lampu Stupa saya tulis juga lampu Jepang yang katanya bikin taman ayu, sepertinya juga perlu lampu bali taman agar kecantikan masing-masing karakter dapat kita pahami dan sesuaikan dengan kebutuhan home garden kita, terpesona juga saya melihat klasik etnik dan individu si Jepang ini.

Hari-hari yang aku lalui bersama banyak halaman rumah orang membuat semakin terlena dengan keindahan hasil kombinasi tanah, rumput, pohon, dan ornamen taman.

Sebenarnya jarang juga bertemu taman Jepang, apalagi lampunya. Karena jarang itu pula yang menyebabkan otak saya merekam dengan kuat aksennya.

Dalam seni membuat taman yang sangat diperlukan adalah merekam, melamun, membayangkan, berandai-andai, lalu dituangkan dalam sketsa gambar, berdiskusi sana sini, hitungan harga, dan paling sulit adalah mengerjakannya... he . . he . . he . . (terutama dalam pengadaan material langka macam gambar di atas).

Coba lihat gambar, dudukan berkaki empat ideal terlihat tinggi besar tapi masih dapat terlihat belakangnya, dasar lampu persegi enam lebih lebar dari lampu dengan sedikit garis penegas pinggir.

Inti dari lampu ini juga persegi enam dan berkolom enam juga dan tidak lupa diikuti garis penegas pinggir dan yang paling atas adalah topi dengan garis sudut ada empat mengikuti bentuk dudukan.

Semua itu jadi kesatuan dengan irama sudut 4,6,4 yang menjadi ciri.

Lampu ini sangat cocok untuk taman yang disertai kolam, tanaman yang tidak terlalu besar, tanaman besar, taman berlahan sempit, taman berlahan luas, ups. . sepertinya cocok untuk semua tergantung suasana taman yang ingin kita sajikan.

Sepertinya taman Bali gag cocok dikasih lampu ini dweh . . .
Tapi bila ingin Bali rasa Jepang, . . (lagi membayangkan . .)

Boleh..Boleh.

Di taman minimalis juga asyik tuh . .

Salam rasa-rasa,

9 Agu 2011

ke Taman Impian 6 - Elemen - Elemen Taman Jepang

Tsukubai wadah air dari batu - Taman Saya
Tsukubai wadah air dari batu

Air
Elemen dasar adalah air, batu, dan tanaman. Selain sebagai sumber kehidupan, air digunakan untuk menyucikan benda dari dunia profan sebelum memasuki kawasan sakral. Air dialirkan dari sungai untuk membuat kolam dan air terjun.


Tanaman
Bertolak belakang dari batu yang melambangkan keabadian, pohon, perdu, bambu, rumpun bambu, lumut, dan rumput adalah benda hidup yang tumbuh seiring dengan musim sebelum menjadi tua dan mati.


Bertolak belakang dengan taman gaya Eropa yang berfokus pada warna-warni semak dan bunga, taman di kuil Zen hanya berupa hamparan pasir.

Taman rumah teh hanya menggunakan tanaman berdaun hijau dan pohon maple yang daunnya menjadi merah di musim gugur.

Perbedaan antara lereng gunung, padang rumput, dan lembah dinyatakan dalam pemakaian berbagai macam spesies pohon dan perdu yang dipotong dan dipangkas hingga menyerupai berbagai bentuk.

Pohon dan perdu juga dipakai sebagai penghubung antar dua lokasi pemandangan di dalam taman.

Bukit-bukit buatan dibangun dari gundukan tanah. 

Batu
Disusun menyerupai bentuk alam seperti pegunungan, air terjun, dan pemandangan laut, dan dipilih berdasarkan bentuk, ukuran, warna, dan tekstur.


Batu adalah elemen terpenting dalam taman karena dapat dipakai untuk melambangkan pegunungan, garis pantai, dan air terjun.

Di taman yang memiliki pulau kura-kura dan pulau burung jenjang di tengah kolam, batu-batu diletakkan untuk memberi kesan adanya kepala dan ekor.

Batu berukuran sedang digunakan sebagai batu pijakan (tobiishi) yang dipasang bersela-sela di jalan setapak, batu yang menutup jalan setapak disebut batu ubin (shikiishi), ketika berjalan di atasnya saat hari hujan, pakaian dan alas kaki akan terhindar dari percikan air, tanah, dan lumpur.

Di taman batu Jepang, hamparan pasir dan kerikil diratakan dengan penggaruk menjadi pola-pola yang melambangkan benda yang mengalir seperti awan dan arus air.


Butiran pasir dan kerikil yang dipakai tidak berukuran terlalu halus karena mudah diterbangkan angin atau dihanyutkan oleh air hujan. Sebaliknya, butiran pasir dan kerikil yang berukuran terlalu besar akan sulit ditata dengan penggaruk.

Pemilihan pasir dan kerikil juga mempertimbangkan warna, pasir berwarna putih memberi kesan murni dan cemerlang di bawah sinar matahari, sedangkan pasir berwarna gelap mengesankan keheningan.

Batu untuk taman berasal dari pegunungan, pinggir laut, atau pinggir sungai, dan digolongkan menjadi tiga jenis: batuan sedimen, batuan beku, dan batuan malihan.


Batuan sedimen biasanya memiliki permukaan yang halus dan bulat karena terkikis air, batuan seperti ini dipasang di pinggir kolam dan sebagai batu pijakan di jalan setapak, batu potong dari batuan sedimen juga populer untuk membangun jembatan, wadah batu berisi air, dan lentera batu.

Batuan beku berasal dari gunung berapi dan biasanya memiliki bentuk dan tekstur yang kasar, batu seperti ini dipakai sebagai batu pijakan atau sebagai elemen yang menonjol, misalnya diletakkan untuk melambangkan puncak gunung.

Batuan malihan adalah batu keras yang biasanya dipasang di sekeliling air terjun atau aliran air.

Pagar
Di taman rumah teh dan taman Jepang model kolam di tengah (shisen kaiyu), pagar dan bangunan gerbang merupakan elemen penting dalam lanskap, pagar secara garis besar terdiri dari pagar hidup (ikigaki) dari tanaman perdu yang dipangkas dan pagar buatan dari kayu atau bambu.

Pagar hidup berfungsi sebagai pembatas, penghalang pandangan, pelindung dari angin, api, dan debu, serta penghambat suara. Pagar bambu tembus cahaya (sukashigaki) disusun dari batang-batang bambu yang lebar-lebar jaraknya hingga pemandangan di balik pagar masih terlihat. Sebaliknya, pagar pembatas (shaheigaki) dibangun dari susunan bambu yang rapat dan membatasi pemandangan di baliknya.

Di dalam taman tidak digunakan dinding dari tanah yang dikeraskan, kayu, atau batu. Dinding hanya dipakai sebagai dinding luar pembatas taman.


Lentera
Lentera (toro) berasal dari tradisi Cina untuk menyumbangkan lentera ke kuil Buddha. Sejak zaman Heian, lentera juga disumbangkan ke kuil Shinto untuk penerangan di malam hari dan sebagai hiasan.


Lentera batu mulai dijadikan dekorasi standar di taman rumah teh sejak zaman Muromachi, setelah menjadi mode di taman-taman rumah teh, lentera batu akhirnya dipasang di berbagai taman Jepang karena keindahan dan kegunaannya.

Wadah air
Wadah batu berisi air (tsukubai) adalah perlengkapan standar taman rumah teh.


Air dari tsukubai dipakai untuk mencuci tangan tamu sebelum mengikuti upacara minum teh, tradisi menyediakan wadah batu berisi air di taman rumah teh berasal dari tradisi menyediakan wadah batu berisi air dalam agama Buddha dan Shinto.

Sebelum berdoa di kuil, orang berkumur dan membersihkan diri dengan air dari wadah batu yang disebut chozubachi, wadah batu yang diletakkan di tanah disebut tsukubai chozubachi (disingkat tsukubai) karena orang yang mengambil air harus berjongkok (tsukubau).

Setelah banyak dipasang di taman-taman, tsukubai akhirnya dijadikan perlengkapan standar di taman-taman rumah teh.

Selain tsukubai terdapat dua bentuk lain wadah air dari batu, wadah batu yang memungkinkan orang mengambil air sambil berdiri disebut tachi chozubachi (chozubachi berdiri).


Wadah air yang diletakkan berdekatan dengan beranda bangunan disebut ensaki chozubachi (chozubachi beranda).

Jembatan
Dalam desain taman dengan air sebagai subjek utama, jembatan adalah elemen dasar yang menambah harmoni dalam lanskap. Jembatan juga berfungsi sebagai penghubung bagian-bagian taman yang dipisahkan oleh air.


Di taman batu Jepang, jembatan batu dibangun untuk memberi kesan bahwa di bawah jembatan ada "air" yang mengalir.

Di taman gaya Jodo, jembatan melambangkan jembatan Sungai Sanzu yang harus diseberangi arwah orang yang meninggal untuk sampai ke akhirat.


Selain itu, jembatan berfungsi sebagai pemisah, seperti halnya fungsi gerbang tengah (chumon) di taman teh yang memisahkan taman dalam (kawasan sakral) dan taman luar (kawasan profan).

Inspirasi ke taman impian ini saya peroleh dari berbagai sumber yang saya kembangkan berdasar pengalaman saya menekuni dunia pertamanan, kalau ingin melihat versi aslinya silahkan klik.

Lanjutan dari :
ke Taman Impian 1, ke Taman Impian 2, ke Taman Impian 3, ke Taman Impian 4, ke Taman Impian 5.

4 Agu 2011

Pohon dan Bunga Sakura

Bunga Sakura di selorejo
Bunga Sakura Jepang


Bagus kan bunga asli daerah matahari terbit ini, tapi sayang hanya setahun sekali dia berbunga yaitu bulan maret april di negara asalnya.

Saya disini hanya mengekspose saja tentang bunga sakura dan ada juga sedikit pengalaman yang berhubungan dengannya.

Di Indonesia bunga ini dapat tumbuh dan berbunga, saya pernah melihatnya sendiri pada waktu bunganya sedang mekar, sayang momen itu tidak tersimpan, foto di atas dari berkebun-yuuk.blogspot.com milik tempo interaktif.

aku melihatnya sedang mekar di Surabaya kawasan Darmo Satelit, di Selorejo Malang, yang satu ini lebih ekstrim yaitu di jalan arah Donomulyo Malang selatan daerah bukit kapur dengan cuaca lumayan panas, kebetulan satu kali semua.

Pohon sakura saya memastikan bisa tumbuh subur di Indonesia, tapi kalau bisa berbunga alangkah senangnya yang punya, banyak faktor yang membuatnya bisa berbunga.


Bunga Sakura

Bagi yang ingin membuat sket gambar ilustasi, seperti di atas bisa menjadi rekomendasi. Jangan seperti saya, di tahun 2003 disuruh membuat ornamen batu  palimanan bermotif bunga sakura sepanjang 2x8 meter dikawasan darmo hill saya batalkan, untung masih pada tingkat pembicaraan saja. Gara-gara saya tidak tahu detil bunga, teman grup saya juga tidak tahu. 


Mari menanam pohon sakura.

26 Jul 2011

ke Taman Impian 5 - Tema Taman Jepang

Tema Gunung Fuji, Tofukuji Garden

Berikut ini adalah tema taman yang sering di pakai dalam taman gaya Jepang.

Tema pulau kecil yang dibangun di tengah kolam, kadang diletakkan sebuah batu besar, sebagai lambang "tanah kebahagiaan", pulau kecil tidak untuk dimasuki orang dan tidak dibangun jembatan.

Tema kombinasi dari elemen dasar seperti batu-batu, pulau kecil, dan pepohonan yang melambangkan kura-kura dan burung jenjang untuk umur panjang.
Pulau kecil di tengah kolam dibangun seperti bentuk kura-kura atau diletakkan batu yang melambangkan kura-kura di tepian.


Tema lain yang populer adalah Gunung Fuji atau miniatur lanskap-lanskap terkenal di Jepang.


Taman Gaya Kaiyu


Tema di atas telah mengalami perkembangan, seperti halnya taman-taman di Indonesia, para ahli seni taman Jepang di negara asalnya juga telah mengembangkannya menjadi lebih moderen tetapi mereka tetap tidak merubah aturan dasar seni taman Jepang, itulah yang membuat taman Jepang di akui dunia, sedang taman asli indonesia seperti taman sari, taman kaputren, taman sumber awan dan lain sebagainya tinggal puing dan pohon beringin saja yang tersisa, sangat cocok untuk masih dunia lain.

Mari kita lestarikan seni taman asli Indonesia, kalau ada yang menggali dan mengumpulkan bahan kajian, saya bisa di undang dan diajak untuk ikut dalam bagian. Terima kasih kawan.

Lanjutan dari :
ke Taman Impian 1
ke Taman Impian 2
ke Taman Impian 3
ke Taman Impian 4

22 Jul 2011

ke Taman Impian 4 - Model dan Gaya Taman Jepang

Kōraku-en, taman bergaya kaiyū di Okayama

Banyak sekali gaya taman Jepang, berikut ini saya memberikan masukan tentang model dan gaya taman Jepang, bagi orang yang idealis seperti saya yang merasa bosan dengan model taman indonesia bolehlah ini menjadi rekomendasi, selamat tinggal gaya taman Indonesia moderen, mediterania, eropa, minimalis . . .

Tetapi pemberitahuan dari saya, model Jepang ini sangat klasik, membawa kita di era Indonesia belum merdeka (kuno) dan jangan di coba sebelum berpikir mendalam.

Teman saya yang ahli dalam sketsa gambar taman pernah bertandang kerumah, ketika saya tanya apa pernah mendapat order gambar taman Jepang karesansui campuran seperti taman punya saya... di jawabnya TIDAK, parahnya lagi katanya taman saya kuno dan gag jaman, . . aduh sakit hati juga aku mendengar komentar seniman lukis ini.

Dengan terpaksa aku menjelaskan filosofi keseluruhan tentang batu alam yang aku tempatkan, mulai dari batu sambutan, batu bersusun zen yang menjelaskan dasar dibuatnya taman ini yaitu keluarga kecil saya, batu karang besar melambangkan Bapa, batu bersusun yang sebagian batu fosil membentuk air terjun dan kolam melambangkan Putra yang semuanya berada di nilai-nilai sakral, dan batu besar pacitan yang merupakan batu yang paling keras diantara semua batu melambangkan Roh Kudus yang telah berada di estetika profan.

Akhirnya teman saya yang jadi bingung karena tidak menguasai tentang taman Jepang.

Berikut ini model dan gaya taman Jepang sepengetahuan saya,

Taman shinden - zukuri
Taman dibangun di halaman tengah rumah kediaman bangsawan yang dibangun dengan gaya arsitektur shinden-zukuri.


Taman gaya jodo - jodoshiki
Ciri khas taman ini adalah kolam yang ditanami seroja. Tata letak taman dibuat menyerupai bentuk mandala dalam ajaran Jodokyo.


Taman batu Jepang - karesansui
Di taman batu Jepang, batu dipakai untuk menggambarkan air terjun, dan pasir berwarna putih dihamparkan untuk menggambarkan air mengalir. Air sama sekali tidak digunakan sebagai elemen taman. Taman batu Jepang hanya dimaksudkan untuk dilihat dari satu sudut pandang.


Taman gaya shoin - shoinshiki
Merupakan gaya taman Jepang yang paling umum. Taman dibangun menghadap atau mengelilingi shoin (bangunan atau ruangan besar tempat menerima tamu).
Ciri khas berupa batu-batu ukuran besar untuk menggambarkan pemandangan gunung di pedalaman.


Taman teh - chaniwa atau roji
Adalah sebutan untuk taman kecil yang dilengkapi jalan-jalan setapak yang dibangun di sekeliling rumah teh.
Batu pijakan adalah elemen penting yang disusun dijalan setapak yang mengelilingi rumah teh, susunan batu pijakan dimaksudkan untuk mengatur kecepatan langkah orang yang menuju ke rumah teh, penempatan tanaman dan batu ditentukan oleh masing-masing aliran upacara minum teh.
Taman model ini dilengkapi dengan wadah batu berisi air dan lentera batu.


Taman gaya kaiyu - kaiyushiki atau shisen kaiyu
Merupakan perpaduan dari taman gaya shoin dan taman teh, ciri khas taman adalah ukuran taman yang besar dan dilengkapi kolam dan batu-batu. Di dalam taman dibangun taman-taman teh berukuran kecil yang tersebar di beberapa tempat dan dibangun jembatan-jembatan untuk menghubungkannya.


Taman daimyo - daimyo niwa
Sebutan untuk taman-taman luas, di dalam taman jenis ini hampir selalu dibangun kolam. Keindahan taman dinikmati orang sambil berjalan di jalan-jalan setapak yang dibangun di dalam taman.


Bagi yang bercita rasa tinggi tentang taman, sekaligus berdana lebih, silahkan mencobanya, saya pernah berinteraksi sedikit di Surabaya di rumah kolektor sekaligus penjual ikan koi impor, di belakang rumah induk dia membuat rumah teh, ada kolam koi dengan ikan besar-besar, dan ada batu-batu fosil di berbagai tempat, terlihat seperti gaya shoin berpadu roji.

seandainya anda masuk kesana . . .Jepang Banget, ini baru taman rumah. Saya beri nilai sempurna.

Lanjutan dari :
ke Taman Impian 1
ke Taman Impian 2
ke Taman Impian 3

14 Jul 2011

ke Taman Impian 3 - Taman Jepang

Taman Gaya Jepang
Shitennoj honbo garden

Taman Saya semakin kesasar dan terlarut dalam model taman gaya Jepang, . . kwa kwa kwa. . .biar ach. . . ,
Sekedar informasi, gaya taman jepang ini berbeda jauh prinsip dasarnya dengan taman gaya indonesia modern, itu menurut saya yang bingung dan berpikir keras mempelajari ini.
(kalau ada yang bingung, mari kita bersalaman).

Dalam taman Jepang tidak dikenal garis-garis lurus atau simetris. Taman Jepang sengaja dirancang asimetris agar tidak ada satu pun elemen yang menjadi dominan. Bila ada titik fokus, maka titik fokus digeser agar tidak tepat berada di tengah.

Tidak sama dengan taman indonesia modern yang mengenal pusat taman, seperti bonsai besar, batu artifisial, gazebo cantik, dan elemen lainnya sebagai pusat perhatian dari taman.

Taman Jepang mengenal dua hal ekstrem taman, yaitu sakral dan profan.

Di halaman bangunan sakral hanya disebar pasir dan kerikil. Pada halaman bangunan profan adalah tempat memuaskan estetika keduniawian, taman yang dilengkapi kolam besar dan ditanami pepohonan, perdu, serta tanaman bunga, misalnya rumah peristirahatan dan kediaman resmi. Taman seperti ini diperindah dengan dekorasi seperti batu-batuan, lentera batu, dan gazebo.

Berada di tengah-tengahnya antara sakral dan profan adalah taman yang menggabungkan nilai-nilai sakral dan estetika profan.

Taman Jepang yang berukuran besar dilengkapi dengan bangunan kecil seperti rumah teh, gazebo, dan kuil.

Di antara gedung dan taman kadang-kadang dibangun ruang transisi berupa beranda sebagai tempat orang duduk-duduk. Dari beranda, pengunjung dapat menikmati keindahan taman dari kejauhan.

Tidak semua taman Jepang dirancang untuk dimasuki atau diinjak orang, hanya untuk dipandang dari jauh, orang dapat melihat secara sekaligus semua elemen yang ada di dalam taman.

Taman Jepang mengenal permainan perspektif sebagai salah satu teknik untuk membuat taman terlihat lebih besar dari luas sebenarnya.

Teknik pertama
dari beberapa teknik yang biasa digunakan adalah penciptaan ilusi jarak. Taman akan terlihat lebih luas bila di latar depan diletakkan batu-batuan dan pepohonan yang lebih besar daripada batu-batuan dan pepohonan di latar belakang.


Teknik kedua
berupa "tersembunyi dari penglihatan" (miegakure), tidak semua pemandangan di dalam taman dapat dilihat sekaligus. Tanaman, pagar, dan bangunan digunakan untuk menghalangi pandangan isi taman seperti air terjun, lentera batu, dan gazebo. Orang harus berjalan masuk sebelum dapat melihat isi taman.


Teknik ketiga
disebut lanskap pinjaman (shakkei), pemandangan taman meminjam pemandangan alam di latar belakang seperti pegunungan, sungai, atau hutan yang berada di kejauhan. Bangunan seperti istana, rumah, gedung di luar taman juga dapat dijadikan bagian integral dari taman.


wow . . . lumayan konsen, menjabarkannya.

Poin yang didapat:
Ada perbedaan prinsip dasar bila dibanding dengan taman indonesia modern, prinsip asimetris memang berlaku untuk semua gaya taman tetapi di gaya modern ada yang dominan.

Permainan perspektif agar taman terlihat lebih luas memang sering dilakukan tukang taman, tetapi dengan adanya tiga teknik ini, bisa menambah pola pikir saya sendiri, hwakakaka . . . .

Nb. artikel : ke Taman Impian 3 - Taman Jepang, adalah kelanjutan dari artikel sebelumnya yaitu ke Taman Impian 1 dan ke Taman Impian 2, dan pada saat artikel di atas di terbitkan, alhamdulilah saya telah membuat taman Jepang ala Anton9909 dengan karakter taman batu Jepang dan penuh filosofi di halaman depan rumah saya.

Merdeka . . . Muach . . muach . . (kapan-kapan saya terbitkan fotonya.)

8 Okt 2010

Ke Taman Impian 2 - Sejarah Taman Batu Jepang

Taman Saya - Buat Taman Jepang

Membuat taman itu mudah, tinggal panggil tukang taman selesai sudah. Tetapi bagi orang yang mencintai taman, masih ada banyak cerita, arti dan makna dibalik taman yang dirawatnya. (seperti seni fotografi, satu gambar bisa menceriterakan banyak hal), ada baiknya kita belajar sejarah taman.

Menurut sejarah taman batu Jepang yang ditulis oleh Matsu Yoshikawa, dokumen tertua mengenai taman Jepang yang pertama adalah "pulau" yang dibangun Sogano Umako di tepi Sungai Asuka.

Berdasar ide tersebut, di rumah kediamannya, Pangeran Kusakabe membangun taman untuk menggambarkan lanskap alam yang terdiri dari pulau berukuran sedang, jembatan, kolam, dan pantai berbatu-batu.

Pada zaman Nara, Taman Toin di Istana Heijo dibangun dengan menggunakan batu-batu untuk menggambarkan pemandangan laut, tepi sungai, tepi laut, dan air yang mengalir.

zaman Heian populer taman-taman yang dibangun dengan kolam berukuran besar, air merupakan elemen dasar dalam taman Jepang waktu itu.

zaman Kamakura dikenal biksu-biksu ahli pertamanan (ishitadeso). Pembangunan taman waktu itu didasarkan oleh tradisi pertamanan Jepang yang dipadukan dengan filsafat Zen, serta seni, budaya, dan filsafat dari Cina.

Kesulitan air menjadikan mereka membangun taman dari batu-batu yang disebut karesansui. Lanskap alam seperti sungai dan gunung dapat dilambangkan hanya dengan sebuah batu.

Teknik pertamanan berkembang pesat di Jepang pada zaman Muromachi berkat taman batu Jepang yang dirancang dan dibangun oleh Zenami dan pemikiran dari ahli pertamanan bernama Muso Soseki.

Poin yang didapat: 

Membangun taman dengan filsafat, sulitnya air menjadi dasar adanya taman kering, tetapi sekarang sepertinya bagian dari gaya hidup, dan ternyata benda seperti gunung, sungai dapat dilambangkan dengan bentuk abstrak batu.

Ke Taman Impian 1 - Taman Batu Jepang


Hobi mengumpulkan batu alam dan batu kali pada awalnya merupakan impian saya untuk membuat taman dengan kolam alami yang terbentuk dari batu-batu kali pilihan dengan bentuk dan warna yang unik khas batu kali pegunungan di jawa timur, 
kenapa koq impian . . . he he he . . , saat itu saya tidak punya rumah, hanya imajinasi saja untuk 10 atau 20 tahun kedepan.

Setiap lebaran libur di rumah mertua dan di belakang rumahnya ada sungai dari pegunungan, setiap saya memanggul batu unik hasil penyusuran sungai, orang selalu bertanya . . , buat apa ?
ho ho ho . . .

Hanya gigiku yang tampak silau dan bibirku yang melebar.

Sekarang impian 9 tahun lalu itu akan segera saya wujudkan, konsep dan skema sudah terekam dalam imajinasi, sekarang saya akan belajar tentang seni taman dengan filosofi.

Teringat akan seni Suiseki atau seni batu Jepang yang pernah kubaca, mbah google membawa saya ke paklik wiki dan terdamparlah saya di taman batu jepang sebagai awalnya.

Taman batu Jepang atau Karesansui, yang berarti lanskap kering atau taman Zen adalah salah satu gaya dalam taman Jepang. Taman jenis ini tidak menggunakan air. Lanskap alam dilukiskan dengan batu dan pasir yang melambangkan kolam dan aliran air. Orang yang melihat diminta untuk berimajinasi bahwa hamparan pasir berwarna putih dan kerikil adalah permukaan air. Jembatan dibangun untuk memberi kesan ada aliran air di bawahnya. Pola-pola pada hamparan pasir ditata dengan penggaruk bambu untuk melambangkan aliran air.

Taman ini bersifat abstrak, berkembang di kuil-kuil Zen maka dikenal sebagai taman Zen, taman batu sudah merupakan salah satu bagian dari beberapa gaya taman Jepang dari zaman sebelumnya. Berbeda dari gaya dan model taman Jepang lainnya, taman batu Jepang sama sekali tidak memerlukan air. Oleh karena itu, memungkinkan orang membuat taman model ini di tempat sulit air.



Taman batu Jepang yang paling terkenal berada di Ryoan-ji, taman ini hanya terdiri dari 15 buah batu di atas hamparan pasir yang dikelilingi tembok, hanya ada pasir dan batu, tidak ada pohon atau semak. Dilihat dari sudut mana pun (kecuali dari atas), hanya terlihat 14 buah batu.

Poin yang didapat:
Konsep Zen mengenai disiplin, mawas diri, pencerahan dan untuk meditasi.
Sudut yang tepat dan penempatan batu yang akurat disertai pengamatan yang teliti, mencapai tujuan.